Saturday, June 25, 2011
Seandainya otakku punya selang panjang yang di ujungnya ada mata pena, mungkin tak henti-hentinya tulisanku lahir. Setiap sebentuk ide terkonsep, setiap pikiran yang terajut, mungkin akan langsung mengalir di selang tersebut menuju pena, dan tak lama, lahirlah sebuah tulisan.
Untungnya hal itu nggak terjadi.. bayangkan jika aku menulis hanya dengan menggunakan otak. Buahnya adalah segala rasionalisme dan intelektual yang nggak dinaungi norma. Memang ramai dan mudah untuk dicerna akal, mudah meresap dan kelihatannya mungkin keren seperti orang pintar. Tapi.. gersang. Panas, tidak menyejukkan.
Untungnya hal itu nggak terjadi.. bayangkan jika aku menulis hanya dengan menggunakan otak. Buahnya adalah segala rasionalisme dan intelektual yang nggak dinaungi norma. Memang ramai dan mudah untuk dicerna akal, mudah meresap dan kelihatannya mungkin keren seperti orang pintar. Tapi.. gersang. Panas, tidak menyejukkan.
Tuesday, June 21, 2011
Jejen: Sony Ericsson K770i. cantik, bodi tipis, chocholate skinned, friendly, koperatip, keren, atletis dan tahan banting
Jengjeng: PC intel core duo-motherboard ASUS-nVidia G Force-LCD BenQ. cantik dan elegan, black skinned, gampang panas, suka nyanyi, suka maen film, moody.
Jero: Yamaha Vega ZR. ganteng-macho. Jarang mandi, doyan pertamax, paling senang dan baik hati kalo diajak jalan, lincah.
Bos: orang yang sangat menyayangi dan merawat Jejen dkk. Baik hati.
(Suatu malam yg gerah dan mendung.)
Bos: apdet status aah..
Jejen: bos, emang punya pulsa?
Jengjeng: PC intel core duo-motherboard ASUS-nVidia G Force-LCD BenQ. cantik dan elegan, black skinned, gampang panas, suka nyanyi, suka maen film, moody.
Jero: Yamaha Vega ZR. ganteng-macho. Jarang mandi, doyan pertamax, paling senang dan baik hati kalo diajak jalan, lincah.
Bos: orang yang sangat menyayangi dan merawat Jejen dkk. Baik hati.
(Suatu malam yg gerah dan mendung.)
Bos: apdet status aah..
Jejen: bos, emang punya pulsa?
Sunday, June 12, 2011
"ALLAH itu Mahaadil kok."
Salah satu sifat yang paling dilematis dari diri saya adalah nggak enakan dan nggak tegaan. Kata beberapa orang, itu yang bikin saya jadi nggak tegas. Setiap ada yang ngutang, jarang saya tagih kecuali orang itu ngutang dalam jumlah besar dan saya lagi butuh uang. Setiap ada kakek-kakek jualan sapu, pisau, makanan atau yang lainnya, pasti saya ngeliatnya pengen nangis (bukan pengen beli). Usianya yang sudah uzur, tubuh tuanya yang ringkih, pandangannya yang meluluhkan hati.
Setiap ditolongin orang, saya juga bawaannya galau terus. Ya nggak enak lah sama orangnya, takut ngerepotin, bingung gimana lagi caranya ngungkapin terima kasih, dan lain-lainnya. Kalo ada orang salah juga gitu, dalam kebabyakan kasus saya cuma bisa bilang "nggak apa-apa.." atau yang paling sadis pun, cuma melirik ke si-yang-punya-salah, trus berlalu tanpa berkata-kata.
Apalagi, kalo nonton filem sedih, (permisi, asal bukan sinetron atau cerita cinta-cintaan cengeng ya.) kayak Taehukgi, Hachiko, atau One Litre of Tears. Banjirlah.
Kalo kata seorang sahabat saya yang baru aja menyaksikan saya ngasih duit kepada pengemen ketiga pas kita lagi makan di tenda biru, "Kamu terlalu ngasianin orang, sampe nggak ngasianin diri sendiri.. punya duit buat pulang nggak?" katanya.
"(gulp.) Ada kok.. masih ada recehan." Tangkis saya.
"Hh.. sekali-kali, belajar bersikap koleris.."
"..." dasar koleris sejati, pikir saya. 
Apa hubungannya koleris dan melankolis soal ngasih-duit-ke-pengamen?
Wednesday, June 8, 2011
Beberapa saat yang lalu.. Tumbuh sebuah tunas kecil di hati ini.
Awalnya, biasa saja. Namun kelamaan, rasanya ada yang mengganjal. Ada yang mengganggu.
Tunas itu masih kecil. Mungkin dengan satu atau dua daun mungil. Akarnya sudah merambat, meskipun belum mencengkram kuat.
Kucoba meneliti tunas ini. Ada yang salah, ya.. aku tau ada yang salah. Tunas ini berpenyakit!
#ugh
Selidik punya selidik, setelah menelusuri akar utama yang lebih dulu mengecambahi, kutahu ini tunas IRI. Ya, tunas iri yang tumbuh dan siap bermetamorfosa menjadi penyakit, lalu kemudian akan menjangkiti hati ini! Astaghfirullah.. astaghfirullah..
Bukan iri oleh materi.. karena subjek yang dimaksud tak memiliki bentuk kecuali realisasinya. Aku iri karena dia begini dan begitu. Aku iri karena dia bisa begini dan begitu. Aku iri atas prestasinya. Apa yang bisa dibanggakan darinya. Aku melihat intan di pangkuanyya, serta debu di pangkuanku.
Astaghfirullah..
Aku tau. Kita nggak akan jadi apa-apa kalau kita nggak menjadikan diri apa-apa. Menjadikan diri apa-apa berarti mengorbankan apa-apa yang dimiliki, bersedia ngapa-ngapain dan diapa-apain. Maka kita akan menjadi apa-apa.
Aku sudah menjadikan diri jadi apa? Kalau aku iri kepada mereka yang menjadi apa-apa, mengapa aku nggak ikutan menjadikan diri apa-apa supaya aku juga bisa?
Aku mau lebih bersyukur.. nggak mau retorika syukur. (padahal tulisan INI juga retorika ya..)
Aku akan melakukan apa-apa yang kubisa, belajar apa-apa yang belum kukuasai, dan membereskan apa-apa yang belum pada tempatnya. Retorika ini, semoga bukan hanya retorika.
BISMILLAH!
(pojok aula lt.3 gedung Q, saat sidang umum LPJ HMJA oleh MPM PNJ 10-11)
Awalnya, biasa saja. Namun kelamaan, rasanya ada yang mengganjal. Ada yang mengganggu.
Tunas itu masih kecil. Mungkin dengan satu atau dua daun mungil. Akarnya sudah merambat, meskipun belum mencengkram kuat.
Kucoba meneliti tunas ini. Ada yang salah, ya.. aku tau ada yang salah. Tunas ini berpenyakit!
#ugh
Selidik punya selidik, setelah menelusuri akar utama yang lebih dulu mengecambahi, kutahu ini tunas IRI. Ya, tunas iri yang tumbuh dan siap bermetamorfosa menjadi penyakit, lalu kemudian akan menjangkiti hati ini! Astaghfirullah.. astaghfirullah..
Bukan iri oleh materi.. karena subjek yang dimaksud tak memiliki bentuk kecuali realisasinya. Aku iri karena dia begini dan begitu. Aku iri karena dia bisa begini dan begitu. Aku iri atas prestasinya. Apa yang bisa dibanggakan darinya. Aku melihat intan di pangkuanyya, serta debu di pangkuanku.
Astaghfirullah..
Aku tau. Kita nggak akan jadi apa-apa kalau kita nggak menjadikan diri apa-apa. Menjadikan diri apa-apa berarti mengorbankan apa-apa yang dimiliki, bersedia ngapa-ngapain dan diapa-apain. Maka kita akan menjadi apa-apa.
Aku sudah menjadikan diri jadi apa? Kalau aku iri kepada mereka yang menjadi apa-apa, mengapa aku nggak ikutan menjadikan diri apa-apa supaya aku juga bisa?
Aku mau lebih bersyukur.. nggak mau retorika syukur. (padahal tulisan INI juga retorika ya..)
Aku akan melakukan apa-apa yang kubisa, belajar apa-apa yang belum kukuasai, dan membereskan apa-apa yang belum pada tempatnya. Retorika ini, semoga bukan hanya retorika.
BISMILLAH!
(pojok aula lt.3 gedung Q, saat sidang umum LPJ HMJA oleh MPM PNJ 10-11)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Followers
Tuit!
Blog Archive
^_^
- Fitri Nusya
- Depok, Jawa Barat, Indonesia
- a sanguine girl. an art, cat, and culinary enthusiast.
pitrinusya's another blog. Powered by Blogger.
Labels
- cerita (9)
- dari blog yang kemarin (1)
- desain (1)
- emosi jiwa (9)
- gatel nulis (1)
- happy ramadhan (3)
- hati (2)
- iseng (4)
- koleris (1)
- moslem (2)
- nasyid (1)
- otak kanan (5)
- pengalaman (3)
- renungan (3)
- resep yummie (1)
- sanguinis (5)